{"id":753,"date":"2017-04-11T02:04:46","date_gmt":"2017-04-11T02:04:46","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/blog.docotel\/?p=753"},"modified":"2018-05-03T08:46:55","modified_gmt":"2018-05-03T08:46:55","slug":"apa-sebenarnya-hacker-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/apa-sebenarnya-hacker-itu\/","title":{"rendered":"Apa Sebenarnya Hacker Itu?"},"content":{"rendered":"<p>Kalau mendengar kata\u00a0<em>\u201cHacker\u201d<\/em>\u00a0stereotype yang negatif sangatlah kuat. Seperti mencuri akun, menyadap informasi penting yang dampaknya pastilah merugikan.<\/p>\n<p>Kalau mengikuti berita yang sedang berkembang pada akhir bulan lalu, ada berita mengenai remaja yang berhasil membobol 4600 situs. Remaja tersebut diketahui lulusan SMP dan SMA. Hemm.. semudah itukah meretas suatu situs sehingga siapapun bisa mempelajarinya dengan mudah?<\/p>\n<p>Dari beberapa sumber yang didapatkan, teknik\u00a0<em>hacking<\/em>\u00a0susah-susah gampang. Susahnya karena harus memahami logikanya dengan benar. Gampangnya, saat ini setiap orang diberikan kemudahan untuk mengakses internet, sudah banyak jaringan wifi, dengan itupun seseorang sudah bisa meretas. Seseorang bisa menjadi\u00a0<em>hacker<\/em>\u00a0jika dirinya juga memiliki kemauan yang kuat dan terus belajar. Jadi, tidak heran ya jika seorang remaja lulusan SMP mampu meretas suatu situs.<\/p>\n<p><em>Hacker<\/em>\u00a0jika ditilik kembali kepada esensinya, yang berada pada dunia profesional dan industri berkaitan erat dengan upaya peningkatan keamanan dari suatu teknologi, baik perangkat lunak maupun perangkat keras. Kemudian istilah seorang\u00a0<em>Hacker<\/em>\u00a0itu sebetulnya ialah sebutan untuk\u00a0<em>security researcher<\/em>. Sebetulnya, sebutan untuk orang yang meretas suatu situs adalah\u00a0<em>cracker<\/em>, banyak orang yang menyalah artikan sebutan tersebut.<\/p>\n<p>Awal kemunculan dan penggunaannya,\u00a0<em>hack<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>hacker<\/em>\u00a0memiliki artian yang positif karena memiliki artian seseorang yang paham dan mahir komputer yang mengotak-atik sistem dan segala hal yang berkaitan dengan dunia PC untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.<\/p>\n<p>Sebetulnya, perusahaan sangat membutuhkan para\u00a0<em>hacker<\/em>\u00a0ini bukan untuk merusak, suatu perusahaan berani membayar mahal seorang\u00a0<em>hacker<\/em>\u00a0karena tujuannya adalah mencarikan celah keamanan dari produk perusahaan tersebut. Ketika ditemukan celah, si\u00a0<em>hacker<\/em>\u00a0akan memberikan pesan kepada perusahaan agar segera \u201cditambal\u201d celah tersebut agar keamanannya tetap terjaga.<\/p>\n<p>Namun seiring perkembangannya kata\u00a0<em>hack<\/em>\u00a0berubah menjadi negatif. Ketika pada tahun 1981, ada sebuah perkumpulan yang bernama Chas Computer Club (CCC) berhasil membobol jaringan komputer German Bildschirmtex yang berakibat pada ruginya sebuah bank.<\/p>\n<p>Peretas memiliki konotasi yang negatif karena adanya kesalah pahaman akan perbedaan istilah mengenai\u00a0<em>hacker<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>cracker<\/em>. Banyak yang memahami bahwa peretaslah yang menyebabkan kerugian di satu pihak seperti mengubah tampilan suatu situs web, menyisipkan kode virus, itu sebetulnya merupakan ulah\u00a0<em>cracker<\/em>. Dari penjelasan di atas sudah bisa dipahami bahwa tugas sebenarnya dari\u00a0<em>Hacker<\/em>\u00a0merupakan pekerjaan yang positif bukan seperti yang dimaksud oleh masyarakat kebanyakan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau mendengar kata\u00a0\u201cHacker\u201d\u00a0stereotype yang negatif sangatlah kuat. Seperti mencuri akun, menyadap informasi penting yang dampaknya pastilah merugikan. Kalau mengikuti berita yang sedang berkembang pada akhir bulan lalu, ada berita mengenai remaja yang berhasil membobol 4600 situs. Remaja tersebut diketahui lulusan SMP dan SMA. Hemm.. semudah itukah meretas suatu situs sehingga siapapun bisa mempelajarinya dengan mudah? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":754,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"quote","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"coauthors":[],"class_list":["post-753","post","type-post","status-publish","format-quote","has-post-thumbnail","hentry","category-knowledge","post_format-post-format-quote"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/753","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=753"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/753\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/754"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=753"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=753"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=753"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=753"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}