{"id":4171,"date":"2020-06-30T10:13:31","date_gmt":"2020-06-30T10:13:31","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.docotel.com\/?p=4171"},"modified":"2020-06-30T10:48:55","modified_gmt":"2020-06-30T10:48:55","slug":"kesuksesan-proyek-di-tangan-project-manager","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/kesuksesan-proyek-di-tangan-project-manager\/","title":{"rendered":"Project Manager: Pahami Orang Lain demi Kesuksesan Proyek"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengelola proyek\nyang dijalankan perusahaan sekilas bisa terlihat mudah. Namun, saat dilakoni,\npekerjaan ini sesungguhnya rumit. Apalagi, kalau proyek yang digarap sangat\npenting untuk mempertahankan reputasi perusahaan, belum lagi ketika menghadapi\nklien yang <em>high demand<\/em> atau <em>user<\/em> yang mengubah <em>timeline<\/em>, juga\nanggota tim yang tiba-tiba meminta kelonggaran waktu pengerjaan. Duh, pusing\njuga, ya? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, oleh karena\nitu lah peran <em>project manager<\/em> (PM) sangat penting. Kemampuan menghadapi\nkrisis harus&nbsp; dimiliki guna membangun\nkepercayaan di antara tim dan klien. Sekarang, mari berkenalan dengan Yusuf,\nsalah satu <em>project manager <\/em>di Docotel Group dari Divisi Enterprise Software\n(ESW). Lulusan Teknik Informatika ini menceritakan pengalamannya sebagai seorang\nPM yang ternyata tidak mudah, lho! &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika\ndihubungi&nbsp; penulis secara <em>online<\/em>,\nYusuf mengaku lebih menyukai sistem <em>work from office <\/em>daripada<em> work\nfrom home. <\/em>Pria yang akrab dipanggil \u2018Ucup\u2019 ini rupanya lebih senang bertemu\ndan ngobrol secara langsung daripada melalui <em>platform online. <\/em>Tetapi, pandemi\nCOVID-19 memang menuntut semua orang termasuk dirinya untuk memaksimalkan\nfungsi teknologi, utamanya aplikasi <em>chatting <\/em>dan <em>video conference <\/em>yang\ndigunakan untuk berkomunikasi dengan klien dan anggota timnya. Teknologi\nmembuat Yusuf tetap bisa produktif memantau perkembangan proyek dan menghadiri <em>meeting\n<\/em>demi <em>meeting.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Jadi <em>Project\nManager <\/em>itu gampang, tapi nggak <em>gampangan<\/em>!<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSebelum bekerja\ndi Docotel, saya bekerja sebagai aplikasi analis di perusahaan <em>finance and\nbanking<\/em>. Saat itu, tentunya saya tidak punya bayangan sama sekali bagaimana\nrasanya menjadi seorang <em>project manager<\/em>,\u201d aku Yusuf. Ia sadar dirinya senang\nmempelajari hal-hal baru, maka saat menjadi PM, ia tak bisa hanya mengandalkan\narahan dari atasan atau rekan-rekan kerja. Ia selalu mencoba bereksplorasi dari\ninternet dan buku untuk bisa menguasai pekerjaan barunya sebagai PM.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski awalnya\nsempat pesimistis karena pekerjaan barunya cukup menyita pikiran dan waktu,\nYusuf terus menggali ilmu dari orang-orang yang lebih berpengalaman, tidak\nhanya dari dalam kantor, tetapi juga di luar kantor. Hingga akhirnya Yusuf\nsadar, pekerjaan ini telah membuatnya mencintai proses interaksi dengan\norang-orang baru. Dengan cepat pengalaman kerja bersama banyak pihak&nbsp; ia jalani, termasuk saat bergabung dengan\nlini\/divisi Prosecure, Product Security and Infra, Product and Infrastructure, juga\nEnterprise Office Management (EOM).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Layaknya seorang\nPM, Yusuf memiliki tanggung jawab internal maupun eksternal. \u201cTugas saya&nbsp; melakukan <em>monitoring<\/em> tim. Ketika ada\nproyek, saya akan memimpin implementasi proyek tersebut, menentukan proyek itu cakupannya\nsampai mana, kapan tenggat waktunya, dan menganalisis risiko yang ada di proyek\nini seperti apa. Setelah itu, baru bikin <em>plan <\/em>dari proyek tersebut,\nlengkap dengan kebutuhan-kebutuhannya seperti apa. Kemudian, dari keseluruhan\nproyek yang akan dijalankan, dibagi lagi menjadi tugas-tugas kecil untuk\ndidistribusikan ke tim. PM juga harus mengontrol dan mengendalikan kegiatan\ndari proyek tersebut apa saja. Kita juga dituntut untuk <em>maintenance <\/em>isu-isu\nyang ada, sampai membuat laporan mingguan ke klien tentang proyek yang sedang\nkita kerjakan,\u201d terang Yusuf.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika menerima <em>brief<\/em>\nsebuah proyek, PM harus segera menguasai materi yang disampaikan klien agar kemudian\nbisa dilanjutkan kepada tim dengan baik. Yusuf perlu mempelajari <em>brief<\/em>\ntersebut agar tim dapat melaksanakan tugasnya dengan benar. \u201cKita harus\nbenar-benar meyakinkan klien apakah <em>brief <\/em>ini sudah sesuai dengan\nkeinginan agar tim bisa bekerja dengan jadwal dan <em>jobdesc <\/em>yang jelas,\u201d\ntegas Yusuf.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama bekerja,\ntantangan yang kerap dihadapi Yusuf terkait bagaimana membuat klien dan tim bisa\nmenjadi akrab. \u201cBiasanya klien itu gaya bahasanya cenderung formal, untuk itu\nbutuh waktu mencairkan suasananya agar bisa ngobrol lebih santai. PM juga punya\ntanggung jawab bahwa tidak semua yang disampaikan oleh <em>user<\/em> bisa\nlangsung disampaikan ke klien, kita harus sesuaikan dulu kalimatnya baru disampaikan\nke klien,\u201d ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses\npengerjaan proyek juga tidak senantiasa mulus dan tanpa hambatan. Ketika ada\nmasalah, PM harus langsung menanganinya dengan melakukan manajemen risiko dan\nmengatur jadwal <em>meeting<\/em> untuk membahasnya bersama. Biasanya, klien dan\ntim akan membahas kembali alur bisnis dan data yang dibutuhkan, sekaligus menyamakan\npersepsi agar proses kerja bisa teratur dan sejalan lagi. Sayangnya, justru\nkarena perannya yang banyak berhubungan langsung dengan klien, tak jarang\nseorang PM disandingkan dengan stigma \u2018hanya penyampai keinginan klien\u2019. Namun,\nsedikit demi sedikit Yusuf berusaha mematahkan stigma ini dengan menunjukkan kompetensi\ndiri. \u201cDiajak ngobrol aja bareng-bareng, biar bisa menemukan solusi sama-sama,\u201d\ntuturnya.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Sedikit\ncemas, banyak senangnya<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejauh ini, pengalaman\npaling berkesan yang pernah dijalani Yusuf bersama tim yaitu saat harus menghadapi\nkemarahan <em>user<\/em>. \u201cIya saat itu kita sedang mengerjakan proyek salah satu\ninstansi negara lah. Nah, karena kurangnya komunikasi antar <em>user <\/em>dan\nklien, <em>user-<\/em>nya marah sampai mengajak bertengkar dan gebrak meja, di\nsitu jujur saya terkejut, tetapi karena sudah terbiasa ya saya mencoba untuk\nmengajak berbicara baik-baik, akhirnya suasana jadi cair kembali,\u201d kisahnya.\nYusuf menambahkan, kejadian itu merefleksikan pentingnya peran PM dalam\nmemahami karakter orang yang berbeda-beda. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemampuan\nmanajerial Yusuf tidak hanya ditentukan gaya berkomunikasinya, tapi juga perlu didukung\nbeberapa <em>tools <\/em>atau aplikasi yang akrab bagi seorang PM, seperti Microsoft\nOffice (utamanya Microsoft Project, Excel, Word, dan Power Point) juga Trello.\nSaat <em>work from home <\/em>tentu saja <em>tools video conference<\/em> menjadi\nandalan untuk berkomunikasi dengan klien, <em>user, <\/em>dan tim. Beragam <em>tools\n<\/em>ini juga masih perlu dilengkapi agar proses kerja sesuai dengan brief dan\nmateri awal sehingga dapat meminimalkan hambatan bahkan konflik yang mungkin\nterjadi. \u201cBiasanya kalau ada kasus begitu, kita akan menunjukkan hasil <em>Minutes\nof Meeting<\/em> (MoM) saat awal rapat dengan klien. Itu bisa menjadi bukti kalau\nhasil proyek sudah sesuai. Kalau klien masih belum puas, biasanya kita akan\ndiskusi lagi untuk mencari solusi terbaik,\u201d ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Yusuf,\npekerjaannya menjadi lebih mudah dan menyenangkan karena banyak dari anggota\ntim yang berusia hampir sama dengannya, sehingga nyaman untuk saling berbagi\ncerita. Di samping itu, peRan sebagai PM membuatnya bisa membawa diri. \u201cKita\ntidak bisa menyamakan cara berbicara satu orang dengan orang yang lain, untuk\nitu kita harus pandai-pandai membawa diri agar lawan bicara kita tidak\ntersinggung,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika ditanya\nmengenai pekerjaan impian, Yusuf mengaku saat ini sudah nyaman bekerja sebagai &nbsp;seorang PM karena banyak hal baru yang setiap\nhari ia temukan.&nbsp; Namun, ia masih perlu\nmenata <em>work life balance<\/em> karena banyak proyek yang harus ia tuntaskan dengan\nlembur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di akhir wawancara Yusuf mengungkapkan, \u201c<strong>Sukses itu ketika kita sudah mencapai kebahagiaan dan orang lain juga ikut menikmati kebahagiaan yang telah kita raih tersebut. Dengan kata lain, sukses itu adalah melihat orang lain bahagia dengan kehadiran kita di sampingnya.\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/social-media-officer-bermain-media-sosial-tidak-main-main\/\">Social Media Officer: Bermain Media Sosial dengan Tidak Main-main<\/a><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tentang Docotel<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/www.docotel.com\/\" target=\"_blank\">Docotel<\/a>&nbsp;4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengelola proyek yang dijalankan perusahaan sekilas bisa terlihat mudah. Namun, saat dilakoni, pekerjaan ini sesungguhnya rumit. Apalagi, kalau proyek yang digarap sangat penting untuk mempertahankan reputasi perusahaan, belum lagi ketika menghadapi klien yang high demand atau user yang mengubah timeline, juga anggota tim yang tiba-tiba meminta kelonggaran waktu pengerjaan. Duh, pusing juga, ya? Nah, oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16938,"featured_media":4174,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1468],"tags":[1423,1299,1422,140,1421],"coauthors":[1125],"class_list":["post-4171","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-perusahaan-berita","tag-docofams","tag-docoprofile","tag-lifeatdocotel","tag-project","tag-projectmanager"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16938"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4171"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4171\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4174"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4171"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=4171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}