{"id":4163,"date":"2020-06-25T09:08:52","date_gmt":"2020-06-25T09:08:52","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.docotel.com\/?p=4163"},"modified":"2020-07-20T07:37:41","modified_gmt":"2020-07-20T07:37:41","slug":"robot-ai-yang-bantu-pulihkan-gangguan-mental","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/robot-ai-yang-bantu-pulihkan-gangguan-mental\/","title":{"rendered":"Ellie dan PARO, Robot AI yang Bantu Pulihkan Gangguan Mental"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjadi seorang\npekerja di kota besar dengan jadwal padat terkadang bisa mengganggu kehidupan\nsosial karena tidak ada waktu untuk merilis kepenatan. Kondisi ini sering\nmemicu stres dan gangguan kesehatan mental\/kejiwaan lainnya. Zipjet, perusahaan\njasa penatu (pencucian dan penyeterikaan pakaian) yang berbasis di Paris,\nBerlin, dan London melakukan penelitian tentang kota-kota paling stres di\ndunia. Hasilnya, Jakarta menduduki peringkat ke-18 dari 150 kota dengan skor\nmencapai 7,84. Penelitian tersebut menunjukkan, kegelisahan dan stres merupakan\nfaktor utama penyebab menurunnya kesehatan mental dan kualitas hidup. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Isu kesehatan\nmental memang belum menjadi fokus perhatian dunia. Pasien dengan penyakit jiwa\nmasih sulit melakukan konsultasi karena takut dengan stigma \u2018gila\u2019 yang mudah\nberembus di masyarakat. Padahal gangguan kesehatan mental belum tentu merupakan\npenyakit yang disebut gila. Melihat fenomena ini, teknologi berbasis <em>Artificial\nIntelligence <\/em>(AI) terus dikembangkan untuk membantu masyarakat\nmengonsultasikan kesehatan mental mereka secara virtual. Di masa depan, AI\ndiperkirakan akan mengubah cara pandang di dunia kesehatan, salah satunya untuk\nyang berkaitan dengan psikoterapi.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Ellie Bantu Korban\nPerang<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">The University of Southern California\u2019s Institute for Creative Technologies merancang robot yang dapat melakukan terapi secara virtual bernama <a href=\"\/www.vice.com\/en_us\/article\/wnjy9n\/virtual-therapy-why-its-so-comforting-to-talk-to-screens-that-listen\">Ellie<\/a>. Robot ini akan membantu para veteran yang memiliki trauma terkait perang dan penderita <em>Post-Traumatic Stress Disorder<\/em> (PTSD). Menariknya, Ellie dapat menangkap isyarat-isyarat nonverbal seperti gerakan wajah dan bahasa tubuh tanpa perlu berbicara.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-youtube wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"SimSensei &amp; MultiSense: Virtual Human and Multimodal Perception for Healthcare Support\" width=\"770\" height=\"433\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/ejczMs6b1Q4?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><figcaption><em>Property of <\/em> The USC Institute for Creative Technologies <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ellie merupakan\nhasil dari sebuah proyek bernama SimSensei. Dirancang untuk memonitor ekspresi\nmikro, Ellie mampu menanggapi isyarat wajah dengan rasa simpati untuk membangun\nhubungan dengan penderita PTSD. Dengan bantuan <em>webcam<\/em>, Ellie bahkan bisa\ndiakses dari jarak jauh tanpa mengurangi kemampuan terapi terbaiknya. Berupaya\nmanusiawi, di awal sesi Ellie memperkenalkan dirinya bukan sebagai seorang\nterapis, melainkan ia akan berkata, \u201cAku adalah seseorang yang senang\nmendengarkan dan mempelajari sedikit tentang dirimu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari hasil tes\nuji tentara Amerika yang harus mengisi penilaian kesehatan, sebagian besar memilih\nmelaporkan gejala gangguan PTSD kepada Ellie daripada saat mengisi formulir\nsecara anonim. Trauma pasca perang memang bukan hal yang mudah untuk\ndiceritakan kepada orang lain, bahkan kepada anggota keluarga sendiri. Oleh\nkarena itu, sangat nyaman saat bisa berbicara kepada sebuah layar yang bisa\nmendengarkan dan merespons.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Albert Rizzo,\nsalah satu <em>project leader <\/em>dari SimSensei menjelaskan, Ellie bisa menjadi\n<em>platform <\/em>yang tepat untuk mendiagnosa pasien secara virtual. \u201cDari\nbeberapa tes yang telah kami lakukan pada korban trauma perang, kami\nmenyimpulkan mereka merasa lebih nyaman berbicara dengan perangkat lunak tanpa\nintervensi manusia di dalam ruangan. Mereka merasa dihargai dan tidak dihakimi,\nseperti berbicara kepada diri sendiri, lalu mereka menangis dan merasa lega\nkarena telah mendapatkan jawaban atas apa yang dirasakannya ketika keluar dari\nruangan,\u201d ungkap Albert saat diwawancarai oleh Vice. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika\ndiluncurkan, Ellie telah mengetes sebanyak 700 subjek yang sebagian besar\nmerupakan korban trauma perang. Rizzo berharap <em>platform <\/em>ini akan terus\nberkembang dan segera diluncurkan secara luas untuk membantu para terapis dan\npara pelaku yang bergerak di bidang kesehatan jiwa agar dapat memberikan\npelayanan dari jarak jauh. SimSensei juga diharapkan dapat memberi pertolongan\nbagi penderita penyakit jiwa yang berjuang dalam kesunyian karena stigma atau\nminimnya akses karena kurangnya fasilitas dan biaya. \u201cEllie tidak akan mampu\nmenyelesaikan masalah semua orang, tetapi mungkin ia bisa setidaknya memulai\npercakapan dan menyadarkan manusia tentang pentingnya isu kesehatan mental agar\ndapat membantu pekerjaan para terapis di masa depan nanti,\u201d pungkas Albert\nRizzo.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>PARO Si Anjing\nLaut Lucu Pelipur Pasien Demensia<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Jepang, robot berbentuk boneka anjing laut bernama PARO, yang merupakan singkatan dari <em>personal robot <\/em>dirancang untuk membantu penderita demensia (penurunan daya ingat dan cara berpikir). PARO dirancang untuk memberikan respon yang berbeda, tergantung perilaku yang diberikan kepadanya. PARO memiliki lima jenis sensor, yakni cahaya, suara, suhu, sentuhan, dan sensor postur. PARO akan mengingat tindakan seseorang kepadanya, misal kita mengelusnya, PARO akan mengingat tindakan tersebut dan memberi respons yang sama dengan mengelus balik kepada kita.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"400\" src=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/PARO-Robot.jpg\" alt=\"Ellie dan PARO, Robot AI yang Bantu Pulihkan Gangguan Mental\" class=\"wp-image-4165\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/PARO-Robot.jpg 640w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/PARO-Robot-300x188.jpg 300w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/PARO-Robot-370x231.jpg 370w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/PARO-Robot-270x169.jpg 270w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption>credits: parorobots.com<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PARO pertama\nkali dirancang pada 2001, kemudian diluncurkan pada 2003 untuk melakukan tes\npada beberapa pasien demensia. Paro Robots dibanderol dengan harga 6000 US\ndollar atau setara 85 juta rupiah. Meski menuai berbagai kontroversi hingga\nmendapatkan sindiran sebagai \u201c<em>robopet<\/em>\u201d seperti dalam film The Simpsons\nkarena kemampuannya yang terbatas layaknya binatang peliharaan yang hanya\nbertugas untuk menemani sang pemilik, PARO terbukti dapat membantu para pasien\ndemensia berusia lanjut karena dapat membuka kembali ingatan masa kecil mereka.\nPARO dapat mengeluarkan suara bernada tinggi untuk merespons sentuhan dengan\nmenggerakkan kepal dan ekornya. Dengan teknologi <em>Artificial Intelligence <\/em>yang\nbersifat <em>therapeutic<\/em>, PARO dapat membantu mengurangi tingkat stres\npasien.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di masa pandemi <a href=\"https:\/\/www.wired.com\/story\/covid-19-robot-companions\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">COVID-19<\/a> ini, PARO juga kembali digunakan untuk membantu para pasien usia lanjut yang tengah dikarantina untuk mengurangi rasa kesepian. Kemampuannya untuk berinteraksi dengan lingkungan dapat memberikan rasa nyaman bagi pasien COVID-19. Melansir Wired, Sandra Petersen, seorang Program Director Departemen Kesehatan di University of Texas mengungkapkan, peran robot seperti PARO menjadi semakin penting di tengah pandemi global, terlebih ketika COVID-19 terbukti lebih banyak menyerang populasi manusia berusia lanjut, yang di antaranya mungkin juga menderita penyakit demensia. PARO Robots masih perlu terus dikembangkan untuk meningkatkan kemampuannya agar dapat bekerja dengan lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca Juga: <a href=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/big-data-di-dunia-kesehatan\/\">Menilik Kontribusi\nBig Data Bagi Dunia Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tentang Docotel<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/www.docotel.com\/\" target=\"_blank\">Docotel<\/a>&nbsp;4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi seorang pekerja di kota besar dengan jadwal padat terkadang bisa mengganggu kehidupan sosial karena tidak ada waktu untuk merilis kepenatan. Kondisi ini sering memicu stres dan gangguan kesehatan mental\/kejiwaan lainnya. Zipjet, perusahaan jasa penatu (pencucian dan penyeterikaan pakaian) yang berbasis di Paris, Berlin, dan London melakukan penelitian tentang kota-kota paling stres di dunia. Hasilnya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16938,"featured_media":4170,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1465,2],"tags":[342,343,1419,1420],"coauthors":[1125],"class_list":["post-4163","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ai-data","category-knowledge","tag-ai","tag-artificialintelligence","tag-mentalhealth","tag-mentalhealthawareness"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4163","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16938"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4163"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4163\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4170"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4163"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4163"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4163"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=4163"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}