{"id":4157,"date":"2020-06-19T10:50:41","date_gmt":"2020-06-19T10:50:41","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.docotel.com\/?p=4157"},"modified":"2020-07-20T07:38:04","modified_gmt":"2020-07-20T07:38:04","slug":"tagar-simbol-sederhana-berkekuatan-besar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/tagar-simbol-sederhana-berkekuatan-besar\/","title":{"rendered":"Tagar (#), Simbol Sederhana Berkekuatan Besar"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Negeri Paman Sam telah membangkitkan solidaritas dunia akibat kasus George\nFloyd, <em>rapper <\/em>yang tewas setelah\nmengalami kekerasan dari seorang aparat di Minneapolis. Secara masif warga Amerika turun ke jalan melakukan aksi protes.\nGerakan ini menyedot perhatian\nmasyarakat dunia terkait isu\nrasisme yang masih terjadi di Amerika. Internet menyumbang kekuatannya dalam menggalang dukungan, bahkan media\nsosial pun dipenuhi tagar #BlackLivesMatters. Dengan cepat tagar ini viral hingga membuat masyarakat di beberapa negara lain ikut turun ke jalan\nmenuntut keadilan bagi George Floyd. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengaruh tagar yang begitu besar dapat kita telusuri dari sejarahnya\nyang juga menarik. Bagaimana\ntagar atau <em>hashtag <\/em>akhirnya digunakan sebagai salah satu katrol\nkeberhasilan berkomunikasi di media sosial? Simak ulasannya dalam artikel\nberikut ini. <\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Histori tagar<\/strong><strong> di media sosial<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mulanya, tanda pagar\/tagar\/<em>hashtag<\/em> (#) digunakan sebagai simbol atau satuan rumus untuk berbagai bidang kehidupan, seperti menaikkan not sebanyak setengah nada (abad ke-12), menjadi notasi dalam catur yang artinya #Checkmate (pertengahan abad ke-20), juga sistem operasi telepon Oktothorpe (1960) yang membuat kita harus menyertakan tagar di awal sebelum tiga digit nomor <em>provider <\/em>saat memeriksa saldo pulsa. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-twitter wp-block-embed is-type-rich is-provider-twitter\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-width=\"550\" data-dnt=\"true\"><p lang=\"en\" dir=\"ltr\">how do you feel about using # (pound) for groups. As in <a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/barcamp?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">#barcamp<\/a> [msg]?<\/p>&mdash; Chris Messina (@chrismessina) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/chrismessina\/status\/223115412?ref_src=twsrc%5Etfw\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">August 23, 2007<\/a><\/blockquote><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada 1988 simbol <em>hash <\/em>digunakan di Internet Relay Chat (IRC) untuk mengelompokkan pesan, konten, dan topik-topik sejenis agar memudahkan pengguna menemukan informasi yang mereka cari. Penggunaan simbol ini mencuat kembali pada 23 Agustus 2007 kala seorang pengguna Twitter bernama <a href=\"https:\/\/socialmediaweek.org\/blog\/2018\/02\/history-hashtags-symbol-changed-way-search-share\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Chris Messina<\/a>, yang juga seorang IT Product Designer terinspirasi dari IRC dan mencuitkan idepenggunaan tagar untuk pertama kalinya. Cuitan ini tidak begitu digubris dan fitur tagar tidak juga diluncurkan oleh Twitter hingga kebakaran hutan California yang terjadi pada Oktober 2007.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Informasi mengenai kebakaran itu dicuitkan\noleh seorang warga yang juga menjadi korban, Nate Ritter. Messina kembali memperhatikan bahwa <em>tagline\n<\/em>SanDiegoFire saat itu populer digunakan oleh pengguna Flickr. Hal ini\nmenginspirasi Messina untuk menjangkau Nate dan menyarankan penggunaan\n#SanDiegoFire di semua <em>tweet <\/em>yang relevan dengan kejadian tersebut. Cuitan\nRitter lantas viral hingga\nmembuat pengguna Twitter mulai menggunakan tagar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada 2009, Twitter akhirnya\nmeluncurkan fitur tagar dan membuatkan alat pencarian khusus bagi untuk mencari topik-topik yang relevan\ndengan tagar yang diinginkan. Para pengguna\npun mulai sering membuat cuitan yang disertai tagar. Setahun kemudian (2010), fitur Trending\nTopics muncul untuk menampilkan tagar yang paling populer di Twitter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seiring dengan perkembangan <em>Internet of Things<\/em> (IoT), tagar menjadi alat penting bagi para pegiat media sosial\nuntuk mengetahui pengaruh konten terhadap audiens. Bahkan kini, tagar mampu menentukan\npersaingan antarcalon presiden dalam pemilihan umum. Gerakan sosial di dunia nyata juga banyak\ndipengaruhi tagar yang sedang viral di media sosial. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesuksesan Twitter dengan tagar kemudian diadopsi <em>platform <\/em>media\nsosial lain. Tumblr merupakan\nmedia sosial pertama yang ikut mengadopsi tagar ini. Instagram yang meluncur pada 2010 telah\nmenyematkan tagar pada fiturnya sejak hari pertama, kemudian disusul oleh\nFacebook pada 2013, hingga menjamur di <em>platform <\/em>lain seperti Google+ dan\nPinterest.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak hadir di media <em>mainstream<\/em>,\nutamanya Google, fungsi tagar yang awalnya hanya sebatas alat untuk\nmengelompokkan topik dengan konten yang sejenis pun berubah menjadi fitur yang\nsangat diperlukan untuk menggerakkan massa. Pada 2010, tagar digunakan untuk\nmengoordinasikan gelombang unjuk\nrasa Arab Spring. Lalu, tagar #MeToo digunakan untuk meningkatkan\nkesadaran masyarakat akan kasus-kasus pelecehan seksual. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat pandemi COVID-19 menyerang\ndunia, tagar #stayathome atau #dirumahaja menjadi penggerak masyarakat untuk\nmenerapkan <em>physical<\/em>\/<em>social distancing <\/em>dengan berdiam diri di rumah sambil tetap\nterhubung satu sama lain dengan\nmemanfaatkan internet. Perjuangan\nmelawan rasisme yang diangkat melalui tagar #BlackLivesMatters pun\nakhirnya mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dunia untuk menghargai perbedaan dan menjunjung\ntinggi keadilan.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pentingnya tagar <\/strong><strong>pada <\/strong><strong><em>social media marketing<\/em><\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hadirnya tagar sebagai penggerak\nmassa di media sosial telah membuat para <em>Marketeers<\/em>\nmelirik dan memanfaatkannya.\nPengaruh tagar yang besar dalam\nmenarik pengguna merupakan potensi\nbisnis untuk memperoleh <em>engagement <\/em>hingga mendapatkan keuntungan. Tagar\nberguna memberi label pada konten agar dapat dengan mudah ditemukan pengguna.\nOleh karena itu, jika kita\ningin menawarkan produk atau jasa, tagar dapat digunakan untuk menarik para\ncalon pembeli.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menggunakan tagar untuk menaikkan\njumlah pengunjung di media sosial bukanlah hal mudah dan butuh strategi<em>. <\/em>Jika kita menggunakan tagar yang sudah sering digunakan oleh\npengguna media sosial, kesempatan untuk konten ditemukan memang besar, tetapi risiko bersaing dengan sesama\npengguna lain yang juga menawarkan produk atau jasa sejenis juga cukup besar.\nKarena produk atau jasa tersebut sudah cukup banyak, maka akan sulit untuk\nmelakukan penjualan, kecuali apabila produk atau jasa yang kita tawarkan\nmemiliki keunikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di lingkup <em>social\nmedia marketing<\/em>, cara menyikapi tagar pada satu <em>platform <\/em>tentu berbeda dengan <em>platform <\/em>lainnya.\nOleh karena itu, penting bagi para <em>social media marketeers <\/em>untuk jeli\nmemperhatikan topik-topik apa yang sering dibahas di sebuah <em>platform <\/em>media\nsosial. Pengguna Twitter tentu memiliki perilaku yang berbeda dengan pengguna\nInstagram, begitu pula sebaliknya, sehingga penting untuk mempelajari dan\nmengelompokkan pengguna masing-masing <em>platform <\/em>dengan melihat\ntagar-tagar yang digunakan agar relevan dengan konten yang ingin disampaikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riset juga penting dilakukan\napabila kita ingin melihat perkembangan pengunjung melalui tagar yang\ndigunakan. Jika ingin membuat tagar yang mudah diingat, buatlah dengan nada\nyang berima seperti #SundayFunday\natau #TogetherForever.\nHindari penggunaan tagar yang terlalu panjang dan rumit karena akan membuat\npembaca malas melihatnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, sebisa mungkin hindari menggunakan tagar dengan muatan negatif, politis, atau SARA untuk menghindari makna yang kontradiktif. Penggunaan tagar tentu dimaksudkan untuk menyatukan audiens, bukan malah memecah-belah. Penggunaan tagar akan membuka peluang besar bagi para pengguna media sosial yang ingin membuat kontennya diperhatikan. Oleh karena itu, penting mempelajari kapan dan bagaimana cara menggunakan tagar agar konten yang kita buat dapat memmengaruhi audiens dengan cara yang positif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/instagram-makin-seru-dengan-tiga-fitur-terbaru-ini\/\">Main\nInstagram Makin Seru dengan Tiga Fitur Terbaru Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tentang Docotel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/www.docotel.com\/\" target=\"_blank\">Docotel<\/a>&nbsp;4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Negeri Paman Sam telah membangkitkan solidaritas dunia akibat kasus George Floyd, rapper yang tewas setelah mengalami kekerasan dari seorang aparat di Minneapolis. Secara masif warga Amerika turun ke jalan melakukan aksi protes. Gerakan ini menyedot perhatian masyarakat dunia terkait isu rasisme yang masih terjadi di Amerika. Internet menyumbang kekuatannya dalam menggalang dukungan, bahkan media sosial [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16938,"featured_media":4162,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1465,2],"tags":[363,1331,1418],"coauthors":[1125],"class_list":["post-4157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ai-data","category-knowledge","tag-hashtag","tag-internetofthings","tag-tagar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16938"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4162"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4157"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=4157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}