{"id":4099,"date":"2020-04-30T08:52:38","date_gmt":"2020-04-30T08:52:38","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.docotel.com\/?p=4099"},"modified":"2020-07-20T07:42:10","modified_gmt":"2020-07-20T07:42:10","slug":"kedokteran-x-teknologi-serba-cepat-serba-tepat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/kedokteran-x-teknologi-serba-cepat-serba-tepat\/","title":{"rendered":"Kedokteran x Teknologi: Serba Cepat, Serba Tepat"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Siapa bilang Docotel Group isinya cuma jagoan-jagoan <em>coding <\/em>dan<em> programming<\/em>? Kita juga punya dokter, lho! <em>Yass<\/em>, dokter Dian Jauhari, VP of Clinical Science and Technology Health Information System (HIS) Division yang akrab dipanggil DJ. Sekarang mari kita bayangkan, saat ilmu kedokteran disatukan dengan inovasi teknologi, seperti apa ya jadinya?<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pelayanan Kesehatan yang Lebih Manusiawi dengan Teknologi<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat3-1024x576.jpg\" alt=\"docotel official blog - Kedokteran x Teknologi: Serba Cepat, Serba Tepat\" class=\"wp-image-4100\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat3-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat3-300x169.jpg 300w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat3-768x432.jpg 768w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat3-370x208.jpg 370w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat3-270x152.jpg 270w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat3-740x416.jpg 740w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat3.jpg 1500w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">DJ merupakan lulusan kedokteran Universitas\nPadjajaran dan Master untuk\njurusan <em>Health Management System<\/em> di University of New South Wales, Sydney-Australia. Ia pernah praktik di Bandung sambil\nmembuat program-program kesehatan. Meski disibukkan dengan pekerjaannya, tapi hati dan kepedulian laki-laki\nyang tidak mau disapa \u2018dok\u2019 ini makin tertuju kepada masyarakat hingga aktif juga di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">DJ mengisahkan kepada tim penulis, kesempatan bergabung di Docotel Group pada\n2019 merupakan salah satu jalan mewujudkan cita-citanya untuk membuat pelayanan\nkesehatan di Indonesia menjadi lebih manusiawi. DJ membantu merancang Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang kini menjadi\nproduk unggulan Divisi HIS.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SIMRS merupakan solusi yang ditawarkan demi\npelayanan kesehatan yang lebih baik, utamanya agar dokter bisa lebih fokus\nberkomunikasi secara intens dengan pasien. &nbsp;\u201cSelama ini, pasien harus menunggu lama sekali hanya untuk\nmendapatkan satu nomor antrean. Setelah mendapatkan nomor tidak langsung diperiksa,\ntetapi harus menunggu panggilan dulu. Setelah bertemu dokter, ternyata\ndiperiksa tidak sampai lima menit, bahkan istilahnya dipegang sama dokternya\nsaja tidak. Lalu dapat resep, tetapi tidak langsung mendapatkan obatnya, harus\nmenunggu lagi,\u201d ungkap DJ. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Era industri 4.0 sejatinya memungkinkan teknologi mampu memangkas birokrasi yang\nbertele-tele dan tidak efektif. Misalnya, dokter tidak\nperlu lagi menulis keluhan pasien dan resep, tapi cukup dengan\nberbicara, maka teknologi <em>speech recognition <\/em>yang telah tersambung ke\nkomputer akan membantu dokter untuk mengambil keputusan. Tentu tindakan yang\ndilakukan dokter berbeda-beda, tergantung kondisi tubuh pasien. Sistem\nseharusnya bisa beradaptasi dengan perbedaan-perbedaan itu dengan mengelompokkan\nmasing-masing indikator, misalnya usia, untuk mendapatkan penanganan yang sesuai. Sistem\ninilah yang sedang dikembangkan oleh DJ dan rekan-rekan HIS, yakni Clinical Decision\nSupport System (CDSS). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">DJ mencontohkan kasus yang\numum dialami dokter saat\nhanya memiliki waktu 10-15 menit untuk mendengarkan\nkeluhan pasien, memeriksa, mencocokkan rekam medis, mengisi form\ndiagnosis, hingga menentukan obat yang tepat untuk diresepkan. Menurut DJ, kondisi tersebut bisa teratasi dengan pengembangan <em>speech recognition<\/em>. Melalui\nteknologi ini, tenaga kesehatan\nbisa bekerja dengan lebih fokus dan manusiawi lewat automasi karena komputer membantu\nmelakukan kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski jelas memberi manfaat, tapi inovasi teknologi tak serta-merta bisa diterima\ndan berjalan sesuai harapan. DJ menceritakan tantangan\nyang harus ia hadapi bersama\nrekan-rekan HIS dalam meyakinkan rumah sakit untuk\nsegera beralih ke teknologi. Banyak faktor yang melatarbelakangi lambatnya rumah sakit merespons\nperubahan teknologi yang ditawarkan. Salah satunya, pihak\nrumah sakit memiliki kekhawatiran membeli sistem informasi manajemen yang mahal tetapi nyatanya tidak sesuai dengan proses\nbisnis sehingga malah memberi efek buruk pada pelayanan. \u201cRumah sakit bisa cukup\npercaya diri untuk membeli alat CT Scan dengan harga milyaran, tetapi untuk\nbeli SIMRS dengan harga ratusan juta masih banyak berpikir,\u201d pungkas DJ. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">DJ mengakui selama\nini belum ada sistem yang bisa benar-benar sesuai dengan kebutuhan rumah sakit.\nOleh karena itu, SIMRS coba menawarkan\nkeunggulan dari segi fleksibilitas untuk membangun\nkepercayaan konsumen. Standar yang dimiliki SIMRS jelas dan siap untuk\ndisesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Beradaptasi demi Masa Depan yang Lebih Baik<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat2-1024x576.jpg\" alt=\"docotel official blog - Kedokteran x Teknologi: Serba Cepat, Serba Tepat\" class=\"wp-image-4101\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat2-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat2-300x169.jpg 300w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat2-768x432.jpg 768w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat2-370x208.jpg 370w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat2-270x152.jpg 270w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat2-740x416.jpg 740w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/docotel-official-blog-kesehatan-x-teknologi_serbacepat_serbatepat2.jpg 1500w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persahabatan tenaga kesehatan dengan teknologi sepertinya memang sudah\nmenjadi keharusan. \u201cKita harus jadi orang yang siap\ndalam menghadapi berbagai macam perubahan,\u201d tegas DJ. Pandemi COVID-19\nyang tengah melanda dunia memang membuat para tenaga kesehatan, khususnya di Indonesia, lebih dekat dengan\nteknologi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan saja, jika kita tetap harus mengantre dengan puluhan orang di rumah sakit, bukankah itu memperbesar potensi penyebaran virus? Melihat kondisi ini, maka inovasi teknologi yang disebut <em>telemedicine <\/em>menjadi salah satu yang layak \u2018dilirik\u2019 untuk membantu pelayanan kesehatan di tengah aturan <em>social distancing<\/em>. <em>Telemedicine <\/em>memungkinkan kita berkonsultasi dan ditangani dokter dari jarak jauh, tak perlu datang ke klinik atau rumah sakit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut DJ ada hal-hal\nyang bisa dibantu dengan <em>telemedicine<\/em>, tetapi bukan berarti <em>telemedicine<\/em>\nakan menyelesaikan semua masalah. \u201cKalau dari segi pasiennya butuh penanganan,\nya tetap harus dikondisikan ada dokter yang menemui ke sana, kalau <em>case<\/em>-nya\ndi wilayah yang pelayanan kesehatannya masih minim. Namun setidaknya, di\nkondisi sekarang ini, dengan <em>telemedicine<\/em> kita bisa bantu\nmengomunikasikan dokter dan pasien tanpa harus datang ke rumah sakit. Setidaknya, untuk penanganan\nyang lebih awal kalau kondisinya kritis, bisa dibantu dengan petugas kesehatan\nyang sudah dibentuk di wilayah tersebut,\u201d pungkas DJ.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rekan-rekan HIS pun tengah mengembangkan\nsebuah <em>platform telemedicine<\/em> bernama E-poly. <em>Platform <\/em>ini memungkinkan dilakukannya konsultasi\nkesehatan melalui video yang terintegrasi dengan rekam medis, pendaftaran, dan\npembayaran. Dokter dapat mengukur suhu badan, tekanan darah, bahkan denyut\njantung tanpa kontak fisik dengan pasien. Hal ini memungkinkan kita untuk tetap\ntertangani meski di rumah saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penggunaan AI\njuga menjadi cita-cita HIS dalam mengembangkan teknologi di bidang kesehatan di\nmasa depan. Untuk saat ini, teknologi yang digunakan masih berhubungan dengan <em>big\ndata, Intenet of Things <\/em>(IoT), dan <em>Clouds.<\/em> <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di masa depan, utamanya\nsaat\npandemi COVID-19 telah usai, DJ memperkirakan, orang-orang akan lebih memperhatikan<em> <\/em>data-data kesehatan pribadinya. Misalnya,\nkalau akan ke luar negeri, sebelumnya hanya ditanya mengenai paspor, data-data terkait imigrasi dan\nkependudukan, setelah COVID-19 bisa jadi pemerintah dunia akan menetapkan\nkebijakan baru seperti menyertakan data-data kesehatan, vaksinasi, dan akan ada pemeriksaan\nlain yang terkait dengan kesehatan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTetap #dirumahaja kalau tidak ada keperluan mendesak dan usahakan untuk tetap waras ya dalam menghadapi situasi ini,\u201d tutup DJ.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/social-media-officer-bermain-media-sosial-tidak-main-main\/\">Social Media Officer: Bermain Media Sosial dengan Tidak Main-main<\/a><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tentang Docotel<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.docotel.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Docotel<\/a>&nbsp;4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa bilang Docotel Group isinya cuma jagoan-jagoan coding dan programming? Kita juga punya dokter, lho! Yass, dokter Dian Jauhari, VP of Clinical Science and Technology Health Information System (HIS) Division yang akrab dipanggil DJ. Sekarang mari kita bayangkan, saat ilmu kedokteran disatukan dengan inovasi teknologi, seperti apa ya jadinya? Pelayanan Kesehatan yang Lebih Manusiawi dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16938,"featured_media":4105,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[790,1468],"tags":[],"coauthors":[1125],"class_list":["post-4099","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-health-information-system","category-perusahaan-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4099","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16938"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4099"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4099\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4105"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4099"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4099"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4099"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=4099"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}