{"id":4091,"date":"2020-04-27T10:11:03","date_gmt":"2020-04-27T10:11:03","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.docotel.com\/?p=4091"},"modified":"2020-04-27T10:11:05","modified_gmt":"2020-04-27T10:11:05","slug":"ubur-ubur-bionik-pantau-perubahan-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/ubur-ubur-bionik-pantau-perubahan-iklim\/","title":{"rendered":"Ubur-ubur Bionik, Si Jago Pantau Perubahan Iklim di Lautan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dampak dari perubahan iklim tidak main-main, tak hanya di darat, tapi\njuga di laut. World Wide Fund for Nature (WWF) menyatakan sejak era praindustri\nhingga saat ini perubahan iklim telah mengakibatkan kenaikan suhu global\nsebesar 0,7<sup>o<\/sup>C dan mengganggu kehidupan di laut. Sementara data yang\ndihimpun National University of Singapore (NUS) menyebutkan setiap tahunnya\ntingkat pertumbuhan terumbu karang berkurang 1% dan 60% tumbuhan rumput laut\ntelah mati imbas dari perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melihat efek yang muncul dari perubahan iklim di lautan, kini berbagai teknologi telah dikembangkan para ilmuwan untuk mempertahankan dan melindungi lingkungan serta keanekaragaman hayati laut, seperti satelit dan <em>saildrone<\/em> (perahu layar robot). Bahkan, belum lama ini para ilmuwan berhasil menciptakan ubur-ubur bionik untuk memantau tanda-tanda perubahan iklim dan mengamati fenomena alam. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/sumber-sanfrancisco.cbslocal.com_-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4093\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/sumber-sanfrancisco.cbslocal.com_.jpg 1024w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/sumber-sanfrancisco.cbslocal.com_-300x169.jpg 300w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/sumber-sanfrancisco.cbslocal.com_-768x432.jpg 768w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/sumber-sanfrancisco.cbslocal.com_-370x208.jpg 370w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/sumber-sanfrancisco.cbslocal.com_-270x152.jpg 270w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/sumber-sanfrancisco.cbslocal.com_-740x416.jpg 740w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Sumber: sanfrancisco.cbslocal.com<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti apa sih ubur-ubur bionik ini? Ubur-ubur ini unik. Bisa saja\nkita menyebutnya robot, tapi bila diperhatikan, tidak semua tubuhnya terbuat\ndari mesin. Namun, untuk menyebutnya sebagai hewan juga tidak bisa, karena ada\nmesin yang disematkan dalam tubuhnya. Seperti nama ubur-ubur ini, bionik adalah\nilmu yang digunakan untuk mengganti struktur anatomi dengan komponen elektronik\natau mekanik. Konsep bionik pertama kali dipublikasikan pada 1970-an dan sampai\nsaat ini terus mengalami kemajuan. Kini bionik tidak hanya sebagai pengganti struktur\nanatomi pada manusia tapi juga pada hewan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melansir CBS San Francisco, ubur-ubur yang mampu memantau dan\nmenjelajahi lautan ini digarap oleh para ilmuwan di Stanford University. Mereka\nmengembangkan anggota tubuh tiruan (protestik) mikroelektronik yang dapat\nmelekat pada invertebrata laut tersebut. Prostetik yang berdiameter 2 cm ini\nmeliputi baterai, <em>chip<\/em>, dan elektroda yang dapat merangsang otot\nsehingga membuat tubuhnya berdenyut lebih sering. Cara kerjanya mirip seperti\nalat pacu jantung untuk mengatur detak jantung. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penanaman alat tersebut memungkinkan ubur-ubur memiliki kemampuan\nberenang tiga kali lebih cepat atau sekitar 4-6 cm per detik. Dibanding dengan\nrobot, ubur-ubur yang terpasang prostetik lebih 1.000 kali lebih efisien. Hal\nini karena mereka dapat mencari bahan makanannya sendiri. Apakah prostetik membahayakan\nubur-ubur? Menurut artikel <a href=\"https:\/\/www.engadget.com\/2020-01-30-jellyfish-prosthetic-device-caltech-stanford.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Engadget<\/a>,\npara ilmuwan menjelaskan ubur-ubur dapat menghasilkan lendir saat stres, namun\ndalam kasus ini ubur-ubur tidak mengeluarkan lendir meski prostetik dipasang\natau dilepas. Ubur-ubur akan kembali berenang dengan kecepatan normal.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain mampu mengontrol dan mengarahkan gerak-gerik dari ubur-ubur,\nlewat prostetik membuat hewan laut ini dapat melakukan pengukuran jangka\npanjang kondisi lautan seperti tingkat oksigen, suhu, salinitas, keasaman,\nnutrisi bahkan komunitas mikroba. Data terkait perubahan iklim di laut akan diperoleh\nsaat ubur-ubur kembali ke permukaan atau setelah mereka melakukan misi berenang\ndi lautan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlu diingat, dalam misi ini\ntidak semua ubur-ubur terlibat, umumnya jenis ubur-ubur bulan dengan diameter\n10-20 cm yang diturunkan. Melimpahnya jumlah hewan lunak ini di lautan menjadi\nalasan para ilmuwan memilihnya untuk menjalankan penelitian terkait perubahan\niklim di laut. Melihat ubur-ubur yang telah ada selama lebih dari 500 juta\ntahun membuat para ilmuwan juga ingin meneliti lebih jauh tentang mereka karena\nhingga kini struktur tubuhnya tidak mengalami perubahan. Adapun dasar lain dalam pemilihan ubur-ubur, para ilmuwan berharap penelitian\nini tidak akan mengganggu lingkungan laut dibandingkan jika menggunakan robot\natau kapal selam. Penasaran seperti apa ubur-ubur saat berenang dengan\nprostetik? Berikut videonya!<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-youtube wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Bionic Jellyfish Swim Faster, More Efficiently\" width=\"770\" height=\"433\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/pH5CVb7yjFw?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/robot-android-altar-3-konduktor-konser-orkestra\/\"><strong>Robot\nAndroid Altar 3 Jadi Konduktor di Konser Orkestra<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tentang Docotel<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.docotel.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Docotel<\/a>&nbsp;4.0 meliputi tim\nyang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi\nyang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi\npermasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dampak dari perubahan iklim tidak main-main, tak hanya di darat, tapi juga di laut. World Wide Fund for Nature (WWF) menyatakan sejak era praindustri hingga saat ini perubahan iklim telah mengakibatkan kenaikan suhu global sebesar 0,7oC dan mengganggu kehidupan di laut. Sementara data yang dihimpun National University of Singapore (NUS) menyebutkan setiap tahunnya tingkat pertumbuhan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10557,"featured_media":4092,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1465],"tags":[343,1403,1402],"coauthors":[789],"class_list":["post-4091","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ai-data","tag-artificialintelligence","tag-bionik","tag-ubur-ubur"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4091","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10557"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4091"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4091\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4092"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4091"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4091"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4091"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=4091"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}