{"id":3938,"date":"2020-03-11T09:25:05","date_gmt":"2020-03-11T09:25:05","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.docotel.com\/?p=3938"},"modified":"2020-03-11T10:28:55","modified_gmt":"2020-03-11T10:28:55","slug":"bangun-personal-branding-di-youtube","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/bangun-personal-branding-di-youtube\/","title":{"rendered":"Bangun Personal Branding di YouTube, Ternyata Ada Channel yang Sengaja Tak Dimonetisasi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sepertinya YouTuber telah menjadi profesi yang diidamkan generasi kekinian. Bahkan, penulis pernah mendapati sebuah lagu anak dengan lirik \u201c<em>Kami kids-kids zaman now. Cita-cita kami suatu hari punya channel YouTube sendiri<\/em>.\u201d Ya, memang banyak orang yang berjuang menancapkan tonggak eksistensinya di <em>platform<\/em> ini karena iming-iming popularitas dan pemasukan uang dari iklan. Anehnya, ternyata ada beberapa <em>channel<\/em> yang justru dengan sengaja tidak dimonetisasi meski<em> subscriber<\/em>-nya sudah banyak. <\/p>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>YouTube, Tren\nMenonton yang Lebih Asyik<\/strong><\/h5>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak habis-habisnya internet memberi peluang kepada\nmasyarakat untuk mendapatkan kenyamanan. Sebenarnya ada banyak media <em>online<\/em> yang bisa dipilih, tapi YouTube menjadi\n<em>platform<\/em> yang digandrungi karena\nbukan hanya untuk mendapatkan hiburan, tapi juga bisa untuk belajar atau\nmendapatkan informasi dalam bentuk audio-visual. Nilai guna YouTube terus\nmeningkat dan diprediksi oleh lembaga riset Statista akan mencapai angka 1,8\nmiliar pengguna di 2021 nanti. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesona YouTube juga nyaris melampaui televisi. Pengguna di\nIndonesia sering memanfaatkan YouTube untuk menonton konten yang tidak sempat\nmereka tonton secara langsung ketika disiarkan televisi. Kegiatan menonton\nacara televisi melalui YouTube juga memiliki nilai plus karena tidak diganggu\niklan yang durasinya bisa cukup lama. Di YouTube durasi iklan-iklan yang mampir\nlebih singkat dan bisa dilewati (<em>skip<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warganet Indonesia yang tinggal di wiayah rural juga semakin\nbanyak mengakses YouTube karena beberapa faktor, seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>infrastruktur penyedia internet dan koneksi yang\nlebih berkualitas,<\/li><li>harga sarana\/paket mengakses internet semakin\nterjangkau, serta<\/li><li>konten yang semakin beragam dan relevan dengan\nminat masyarakat.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>YouTube, Tempat Membangun\n<em>Personal Branding<\/em> hingga Meraup Uang<\/strong><\/h5>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bulan lalu tim penulis membahas bagaimana internet melejitkan nama dan penjualan <em>brand<\/em> lokal <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/sepatucompass\/?hl=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Compass<\/a> di penjuru negeri. Nah, kali ini internet terbukti mampu membangun citra seseorang\/personal. Melalui pemanfaatan YouTube secara positif, individu dapat dikenal baik bahkan popular.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kita <em>Googling<\/em>\ntentang pemanfaatan YouTube sebagai media membangun <em>personal branding<\/em>, maka mesin akan menyajikan banyak data terkait\nhal ini. Jurnal ilmiah dari berbagai universitas pun turut menggambarkan\nbagaimana fenomena ini patut diteliti oleh para akademisi. Bahkan, beragam\nmedia massa mengulas hal ini sebagai informasi yang patut diketahui khalayak,\nmisalnya memberi kiat mudah mengawali bisnis dengan membangun <em>personal branding<\/em> di media sosial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sudah menjadi keharusan bagi YouTuber\/kreator untuk bisa\nmenampilkan citra diri yang menarik secara visual dan audio. Para kreator perlu\nmembuat konsep dan konten yang jelas <em>output<\/em>-nya\nagar <em>channel<\/em>-nya dipercaya hingga\nmampu meraup sebanyak mungkin <em>subscriber<\/em>.\nKualitas <em>personal branding<\/em> akan\nmenentukan nasib <em>channel<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ya, menilik jumlah <em>subscriber<\/em>\nmerupakan indikator paling mudah untuk melihat apakah suatu <em>channel<\/em> memberikan konten-konten yang\nmemenuhi kebutuhan masyarakat. Ranah konten yang dimaksud pun beragam, seperti\nkuliner, musik, teknologi, sosial-politik, juga yang hanya berupa diksusi atau\nobrolan ringan dengan sosok tertentu. Nantinya jumlah <em>subscribers<\/em> sekaligus penonton (<em>view<\/em>)\nini akan menentukan besarnya uang yang bisa diraih YouTuber atau pemilik <em>channel<\/em>. Setidaknya harus ada&nbsp; 1.000 <em>subscriber<\/em>\naktif selama setahun ke belakang dan 4.000 jam waktu tonton (<em>watch time<\/em>) total agar sebuah <em>channel<\/em>\/kanal bisa menayangkan iklan\nsehingga ada uang yang diraup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan berbagai persayaratan yang ditetapkan YouTube, para\nkreator harus meraih impian dengan usaha yang lebih berat. Ada kreator di kanal\nkuliner yang bahkan sampai harus terus memakan sajian super pedas dalam porsi\nbesar agar citra \u201cpenggila\u201d makanan melekat di diri juga channel YouTube-nya.\nLain lagi dengan strategi artis yang rela mengumbar kehidupan rumah tangganya\nagar memicu keingintahuan masyarakat untuk terus mengikuti video-video yang\ndiunggah di <em>channel<\/em>-nya.<\/p>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>Lho.. Ada YouTuber\nTerkenal tapi <em>Channel<\/em>-nya Tak\nMenghasilkan Uang!<\/strong><\/h5>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak tadi kita berbicara soal <em>channel<\/em> YouTube yang dimiliki para kreator dengan <em>personal branding<\/em> bagus sehingga\nmenghasilkan uang. Komersialisasi kanal (monetisasi) untuk membuka \u201clapak\u201d bagi\niklan atau <em>adsense<\/em> pada sosial media\nseperti YouTube merupakan hal yang sah untuk dicoba siapa saja asal sesuai\nprosedur. Monetisasi menyediakan ruang bagi pengiklan untuk menggunakan video\nbuatan kreator sebagai tempat beriklan. Iklan yang dipasang pada <em>channel<\/em> YouTube ini akan dikenakan tarif\ndan menjadi penghasilan bagi pemilik video\/<em>channel<\/em>\ntersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, meski berpotensi memberi keuntungan secara finansial, ada beberapa <em>channel<\/em> yang ternyata dengan sengaja tidak dimonetisasi padahal kreatornya popular dan memiliki ratusan ribu <em>subscriber<\/em>. Mari kita intip <em>channel<\/em> YouTube Soleh Solihun yang sudah memiliki 203 ribu <em>subscriber<\/em>. Penyiar radio, komika, dan mantan jurnalis ini punya sikap yang unik, ia tidak mau memonetisasi <em>channel<\/em> YouTube miliknya. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-youtube wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"THE SOLEH SOLIHUN INTERVIEW: VINCENT ROMPIES\" width=\"770\" height=\"433\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/sGJTSASFofw?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Soleh punya pengetahuan luas, apalagi soal musik, sehingga\nia seperti tidak butuh sensasi agar kontennya dianggap menarik. Dengan\npenampilan dan perlengkapan \u201cseadanya\u201d konten The Solihun Interview mampu\nmenggaet jutaan <em>view<\/em>. Karena tidak\nmementingkan pemasukan dari YouTube, maka Vincent \u201cClub 80\u2019s\u201d yang terkenal\nnggak pernah mau dijadikan konten YouTube\u2014bahkan oleh&nbsp; Gofar Hilman\u2014mau diwawancara Soleh. Menurut\nVincent, Soleh hanya ingin mengobrol, ia tidak punya kepentingan apa pun karena\nmengejar uang dari kontennya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Video wawancara dan pengakuan Vincent ini semakin melejitkan <em>personal branding<\/em> Soleh Solihun meski <em>channel<\/em> YouTube-nya tidak menghasilkan uang. Video wawancara dengan Vincent saja telah ditonton 3,5 juta kali. Situs Social Blade sempat mengestimasi penghasilan Soleh jika <em>channel<\/em>-nya dimonetisasi. Per bulan Soleh bisa menghasilkan Rp320 juta dan per tahun mencapai Rp3,8 miliar.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-youtube wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Dear God - Avenged Sevenfold (fingerstyle cover)\" width=\"770\" height=\"433\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/89FDTtFUBgc?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mirip dengan Soleh Solihun, penulis juga menemukan <em>channel<\/em> yang konten-kontennya dilihat ratus ribu hingga jutaan kali tapi tidak dimonetisasi yaitu Alip_Ba_Ta. Channel milik Alief Gustakhiyat ini masuk kategori musik dengan konten yang berisi permainan gitar <em>fingerstyle<\/em> yang dilakukannya sendiri. Alip bukan figur publik, ia hanya supir truk yang kini menjadi operator <em>forklift<\/em>, bahkan \u2018studio\u2019 tempat ia merekam konten berada di rumah kontrakannya. Penampilannya di setiap video sangat sederhana tanpa alat rekam canggih, sangat apa adanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Skill bermain gitar Alip mengundang warga dunia\nmengapresiasinya. Penulis sempat membaca komentar-komentar masyarakat dari\nberbagai negara yang memuji Alip bahkan minta diajarkan bermain <em>fingerstyle<\/em>. Namun sayangnya, sekarang\nkolom komentar Alip_Bata_Ta ditutup. Alip seolah tak ingin hobi mengulik dan\nbermain musiknya diusik warganet.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa pun konten yang beredar, masyarakat hanya perlu memilah\ndan memilih <em>channel<\/em> mana yang tepat\nuntuk dirinya, karena pergerakan internet begitu masif, cengkraman pengaruhnya\npun sangat luas dan kuat. Begitu pun dengan para kreator. Apa pun konten yang\ndiciptakan, bagaimana pun pilihan manajemen <em>channel<\/em>-nya,\nada konsekuensi yang perlu dipertanggungjawabkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/iot-bikin-sepatu-compass-jadi-tuan-di-negeri-sendiri\/\">IoT Bikin Sepatu Compass jadi Tuan di Negeri Sendiri<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tentang Docotel<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/www.docotel.com\/\" target=\"_blank\">Docotel<\/a>&nbsp;4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sepertinya YouTuber telah menjadi profesi yang diidamkan generasi kekinian. Bahkan, penulis pernah mendapati sebuah lagu anak dengan lirik \u201cKami kids-kids zaman now. Cita-cita kami suatu hari punya channel YouTube sendiri.\u201d Ya, memang banyak orang yang berjuang menancapkan tonggak eksistensinya di platform ini karena iming-iming popularitas dan pemasukan uang dari iklan. Anehnya, ternyata ada beberapa channel [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4208,"featured_media":3941,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1465],"tags":[1340,108],"coauthors":[695],"class_list":["post-3938","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ai-data","tag-iot","tag-youtube"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3938","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4208"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3938"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3938\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3941"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3938"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3938"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3938"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=3938"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}