{"id":3627,"date":"2019-12-19T07:45:38","date_gmt":"2019-12-19T07:45:38","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.docotel.com\/?p=3627"},"modified":"2020-01-31T08:06:08","modified_gmt":"2020-01-31T08:06:08","slug":"computer-vision-dan-speech-recognition-komunikasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/computer-vision-dan-speech-recognition-komunikasi\/","title":{"rendered":"Peranan Computer Vision dan Speech Recognition, Atasi Problematika Komunikasi Penyandang Disabilitas"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terlahir\ndengan kehilangan fungsi pendengaran tentu bukan harapan semua orang yang lahir\ndi dunia. Namun, pada kenyataanya ada orang yang harus mengalami gangguan\npendengaran. Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO) pada tahun\n2018, kasus kehilangan pendengaran atau tuli diperkirakan terdapat 466 juta\norang di seluruh dunia. Sekitar 7 persen atau 34 jutanya adalah anak-anak.\nJumlah tersebut melonjak dari angka 360 juta orang penderita gangguan\npendengaran lima tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehilangan\nfungsi pendengaran tentunya akan mempengaruhi orang dalam banyak hal seperti\nkemampuan berkomunikasi atau berbicara. Hal tersebut kemungkinan terjadi pada\norang disabilitas pendengaran sebelum mengenal bahasa, sehingga menyebabkan\nketidakpahaman pada suatu bahasa dan tidak dapat menyampaikan struktur bahasa\nketika berkomunikasi. Lalu, bagaimana cara orang tuli berkomunikasi? Atau\nbagaimana cara untuk memahami apa yang dikatakan orang tuli?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam\nmengatasi permasalahan komunikasi tersebut maka bahasa isyarat adalah\njawabannya. Bahasa ini digunakan untuk berkomunikasi dengan menggunakan <em>body\nlanguage <\/em>(bahasa tubuh)&nbsp; seperti\ngerak bibir, tangan, tubuh, ekspresi wajah, hingga pandangan mata. Tidak hanya\nitu, bahasa isyarat juga diciptakan berdasarkan gerakan-gerakan yang sudah\ndisepakati maknanya dan digunakan untuk bertukar informasi sehingga dengan\nbegitu sangat membantu dalam mengurangi mis komunikasi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun,\napakah kamu tahu? Kendati bahasa isyarat telah diciptakan untuk berkomunikasi\ndengan orang tuli rupanya tidak semua orang mengerti dan menguasainya. Selain\nitu, terdapat 300 bahasa isyarat yang berbeda dan tersebar di dunia. Misalnya\ndi Amerika, bahasa isyarat yang digunakan adalah American Sign Language (ASL).\nSementara di Indonesia, terdapat dua bahasa isyarat yang dapat digunakan yaitu Bahasa\nIsyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Biasanya\nsetiap bahasa isyarat memiliki perbedaan dalam mengisyaratkan abjad.\nPengisyaratan abjad dapat ditunjukkan hanya dengan satu atau dua tangan.\nBegitupun makna dari gerakan tangan, bisa memiliki arti yang berbeda dari\nsetiap bahasa isyarat. Sekarang kamu mulai menyadari kalau bahasa isyarat\nternyata sangat kompleks dan beragam, bukan? Namun, bagi kamu yang ingin\nmempelajari bahasa isyarat atau jika akan berkomunikasi dengan orang\ndisabilitas pendengaran maka tidak perlu dikhawatirkan jika hidup di tengah\nkecanggihan teknologi. <\/p>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>SignAll, Si <em>Computer Vision <\/em>yang Permudah Komunikasi<\/strong><\/h5>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"817\" height=\"552\" src=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-1-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3629\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-1-1.png 817w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-1-1-300x203.png 300w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-1-1-768x519.png 768w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-1-1-370x250.png 370w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-1-1-270x182.png 270w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-1-1-740x500.png 740w\" sizes=\"auto, (max-width: 817px) 100vw, 817px\" \/><figcaption>Sumber:  <a href=\"https:\/\/www.nanalyze.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.nanalyze.com<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kini dengan menggunakan teknologi kamu dapat memahami apa yang dikatakan oleh orang tuli ataupun sebaliknya. Sebagai contoh ada <a href=\"https:\/\/www.nanalyze.com\/2019\/08\/interpreting-sign-language-ai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SignAll<\/a>, produk besutan startup Hongaria yang dibangun sejak tahun 2016, menggunakan <em><a href=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/computer-vision-apa-dan-mengapa-itu-penting\/\">computer vision<\/a> <\/em>dalam menerjemahkan bahasa isyarat ASL menjadi bahasa tertulis. SignAll menawarkan solusi bagi satu juta orang Amerika yang tuli dalam memudahkan komunikasi. Selain <em>computer vision<\/em>, adapun ilmu dan teknologi pemrosesan bahasa alami yang disematkan dalam produk ini sehingga mampu menerjemahkan kalimat secara lengkap. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">SignAll\nadalah salah satu perangkat yang memungkinkan proses komunikasi terjadi secara\nspontan antara orang tuli dan seseorang yang dapat mendengar. Cara kerjanya, orang\ntuli terlebih dulu harus mengenakan sepasang sarung tangan berwarna-warni\n(warna pada sarung tangan membantu teknologi untuk membedakan gerakan dengan\nlebih akurat), lalu menghadap ke kamera dan Personal Computer (PC). Nantinya\nkamera akan mendeteksi informasi termasuk ekspresi wajah dan gerakan. Sementara,\norang yang dapat mendengar dan berbicara secara normal maka ucapannya akan\nditerjemahkan ke layar orang tuli menggunakan pemrosesan bahasa alami. Dalam\npengimplementasiannya, SignAll dapat digunakan di dunia perekrutan karyawan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat\nini, SignAll telah mengumpulkan basis data atau <em>database <\/em>250.000 gambar\nsecara manual, yang kemudian kumpulan data itu digunakan untuk melatih\nalgoritme produk tersebut. Perusahaan Hongaria tersebut berencana ke depannya\norang dengan disabilitas pendengaran tidak perlu lagi menggunakan sarung tangan\nkarena sistem telah dilatih dan belajar membaca bahasa isyarat dengan sangat\nbaik. SignAll telah berhasil dimplementasikan sebagai proyek percontohan di\nWashington, D.C. di Universitas Gallaudet, Houston, dan Salt Lake City, Amerika\nSerikat. <\/p>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dari Suara ke Teks dengan Live Transcribe <\/strong><\/h5>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"817\" height=\"552\" src=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3630\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-2.png 817w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-2-300x203.png 300w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-2-768x519.png 768w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-2-370x250.png 370w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-2-270x182.png 270w, https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/Peranan-Computer-Vision-dan-Speech-Recognition-Atasi-Problematika-Komunikasi-Penyandang-Disabilitas-2-740x500.png 740w\" sizes=\"auto, (max-width: 817px) 100vw, 817px\" \/><figcaption>Sumber:  <a href=\"https:\/\/opensource.googleblog.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">opensource.googleblog.com<\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adapun\nLive Transcribe yang dikembangkan oleh Google, hadir untuk memecahkan masalah\nkomunikasi bagi orang-orang dengan disabilitas pendengaran. Live Transcribe\ndisajikan berupa aplikasi yang mampu mendengar ucapan lalu menuliskan semuanya\ndi layar <em>smartphone<\/em> secara real-time. Kemudian, kamu juga dapat\nberinteraksi dengan menuliskan respons di aplikasi tersebut secara langsung.\nDengan menerapkan teknologi <em>speech recognition, <\/em>aplikasi ini mampu membedakan\nkata \u2018too\u2018 dan \u2018two\u2018 atau your\u2018 dan \u2018you\u2019re\u2018 meski seseorang terbiasa\nmengucapkannya secara serupa berdasarkan konteks kalimat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hebatnya\nlagi, aplikasi ini didukung dengan sistem pengenal suara <em>recurrent neural\nnetwork<\/em> berbasis <em>cloud <\/em>yang secara terus-menerus dapat mempelajari\nucapan orang dan terdapat fitur <em>auto-correct<\/em>. Live Transcribe juga mahir\nmengelompokkan 570 tipe berbagai jenis bunyi mulai tangisan bayi hingga\ngonggongan anjing. Pengguna dapat memilih 70 bahasa dan dialek seperti bahasa\nsunda dan jawa, dan dilengkapi dengan fitur dua bahasa sehingga memudahkan\npengguna dalam mengubah bahasa. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Live Transcribe saat ini bisa ditemukan langsung di Google Pixel 3 atau mengunduh versi beta-nya di Google Play. Langkah berikutnya setelah terinstal pengguna perlu menentukan bahasa dan baru setelah itu dapat menggunakannya. Terkait keamanan data, pihak Google menjamin segala percakapan yang terekam tidak akan tersimpan di server maupun ponsel pengguna. Jadi, ketika suara diproses maka Live Transcribe akan menampilkannya dalam bentuk teks di layar ponsel dan data suara pun secara otomatis terhapus, hal ini tentunya akan menjaga privasi pengguna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah tadi pemanfaatan teknologi <em>computer vision <\/em>dan <em>speech recognition<\/em> untuk mengatasi masalah komunikasi. Perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak menutup kemungkinan akan ada aplikasi atau perangkat keras baru lainnya dalam membantu dan mempermudah proses berkomunikasi bagi orang-orang dengan disabilitas pendengaran. Terus ikut blog docotel untuk cari tahu informasi terbaru tentang kemajuan teknologi lainnya, ya!<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tentang Docotel<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.docotel.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Docotel<\/a>&nbsp;4.0 meliputi tim yang berdedikasi, berpengalaman, dan ahli dalam menyediakan produk dan solusi yang bernilai tinggi di semua industri. Kami hadir dengan visi mengatasi permasalahan sehingga dapat menciptakan pengalaman terbaik bagi klien.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terlahir dengan kehilangan fungsi pendengaran tentu bukan harapan semua orang yang lahir di dunia. Namun, pada kenyataanya ada orang yang harus mengalami gangguan pendengaran. Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, kasus kehilangan pendengaran atau tuli diperkirakan terdapat 466 juta orang di seluruh dunia. Sekitar 7 persen atau 34 jutanya adalah anak-anak. Jumlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10557,"featured_media":3628,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1465],"tags":[1317,1318],"coauthors":[789],"class_list":["post-3627","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ai-data","tag-computervision","tag-komunikasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3627","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10557"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3627"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3627\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3628"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3627"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3627"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3627"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=3627"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}