{"id":3120,"date":"2019-07-19T07:29:32","date_gmt":"2019-07-19T07:29:32","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.docotel.com\/?p=3120"},"modified":"2019-07-24T10:58:26","modified_gmt":"2019-07-24T10:58:26","slug":"deteksi-dini-tubuh-anda-dari-kanker-paru-cara-konvensional-hingga-ala-industri-4-0","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/deteksi-dini-tubuh-anda-dari-kanker-paru-cara-konvensional-hingga-ala-industri-4-0\/","title":{"rendered":"Deteksi Dini Tubuh Anda dari Kanker Paru: Cara Konvensional hingga ala Industri 4.0"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Publik Indonesia berduka atas kepergian Kepala\nPusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo\nPurwo Nugroho beberapa waktu lalu. Sosok periang dan optimis ini meninggal di\nTiongkok saat menjalani serangkaian pengobatan kanker paru. Seperti yang kita\nketahui dari berbagai pemberitaan media massa, Sutopo pertama kali didiagnosis\nmengidap kanker paru-paru pada awal 2018 dengan kondisi sudah pada stadium 4.\nBeragam proses pengobatan telah diupayakan, mulai dari konsumsi obat hingga\nkemoterapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk\nmengeksplotasi riwayat kesehatan Sutopo. Lepas dari beragam rumor dan\npro-kontra terkait kenyataan Sutopo bukan perokok aktif, ada pelajaran penting\nyang dapat kita maknai tentang bagaimana dapat mengetahui jika ada kanker paru\ntinggal di tubuh kita? Tentu besar harapan untuk dapat memiliki umur panjang\ndengan kondisi kesehatan selalu prima. Namun, apa jadinya jika individu tidak\npeka membaca gejala-gejala dini yang disampaikan tubuh? Apalagi jika kita\nterbiasa mengabaikan rasa tidak nyaman dan mudah menganggap segala sesuatunya\n\u201chanya kecapaian\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kita lihat data yang disampaikan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui <em>website<\/em> resmi <a href=\"http:\/\/depkes.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">depkes.go.id<\/a> mengenai ancaman serius yang membayangi warga Indonesia akibat penyakit kanker paru. Kajian Badan Litbangkes tahun 2015 menunjukkan Indonesia menyumbang lebih dari 230.000 kematian akibat konsumsi produk tembakau setiap tahunnya. Globocan 2018 dan WHO juga menyatakan dari total kematian akibat kanker di Indonesia, kanker paru menempati urutan pertama penyebab kematian, yaitu sebesar 13 persen.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melansir kompas.com, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek\nmenegaskan beberapa faktor risiko yang memicu kanker, di antaranya kebiasaan\nmerokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, kegemukan, pola makan\ntidak sehat, perempuan yang tidak menyusui, dan perempuan yang melahirkan di\natas usia 35 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sungguh ngeri, ya, jika kita membayangkan data tersebut! Namun, sebenarnya ada berbagai upaya yang bisa kita lakukan untuk mencegah risiko kanker, khususnya kanker paru, mulai dari cara sederhana hingga ala industri 4.0. Setidaknya ada beberapa opsi yang mungkin saja bisa dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan tubuh kita. <\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>Deteksi dini kanker: Upayakan mulai\ndari cara konvensional<\/strong><strong><\/strong><\/h5>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kanker paru sering ditandai dengan sesak napas, nyeri dada,\ndan batuk berkelanjutan. Gejala tersebut penting untuk dikenali supaya kita\ndapat meningkatkan keberhasilan proses pencegahan dan pengobatan. Menteri Kesehatan\nRI mengingatkan pentingnya mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian\nkanker di Indonesia. Perlu ada upaya masif yang dilakukan semua pihak, baik\npemerintah maupun masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian kanker. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kementerian Kesehatan RI menyusun satu akronim sederhana yang\nmudah diingat, tapi jika dijalankan dengan baik dapat mengurangi risiko diri terkena\nkanker, yaitu CERDIK. Kata ini merupakan singkatan dari (C)ek kesehatan secara\nberkala, (E)nyahkan asap rokok, (R)ajin aktivitas fisik, (D)iet sehat dengan\nkalori seimbang, (I)stirahat cukup, dan (K)elola stres. CERDIK memang menjadi\ncara paling sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengendalikan faktor risiko\nkanker, meski pada kenyataannya cukup sulit untuk mempraktikkannya secara\nkonsisten.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Senada dengan Menteri Kesehatan, Elisna Syahruddin dari\nDepartemen Pulmonologi dan Ilmu Respiratori Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia\nmengatakan salah satu cara untuk mendeteksi kanker paru-paru adalah rutin\nmelakukan <em>medical check up<\/em>.\nMenurutnya, individu yang berisiko rendah mengidap kanker paru-paru wajib\nmemeriksakan diri ke dokter paru-paru minimal setahun sekali. Sementara yang\nberisiko tinggi, konsultasi ke dokter paru-paru setiap enam bulan sekali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Reskia Dwi Lestari selaku Marketing Communication PT Prodia\nWidyahusada menjelaskan bahwa ada satu pemeriksaan non-lab yang\ndirekomendasikan untuk <em>skrining<\/em> kanker\nparu secara internasional, yaitu Low Dose Computed Tomography (LDCT). &#8220;Ini\nmerupakan pembaruan dari CT Scan yang dikenal dengan Low Dose Spiral,&#8221;\nungkapnya kepada Kompas.com. LDCT merupakan teknologi yang bisa menghasilkan\ngambar tiga dimensi dengan resolusi tinggi. Teknologi LDCT dapat memperlihatkan\ndetail yang lebih jelas dibandingkan <em>x-ray<\/em>\ndada konvensional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sayangnya, Kementerian Kesehatan dalam <em>website<\/em> resminya menyatakan pemeriksaan LDCT tidak direkomendasikan\nuntuk pasien yang tidak memenuhi kriteria&nbsp;\nkelompok risiko tinggi, yaitu pasien usia &gt; 40\ntahun dengan riwayat merokok \u226530 tahun dan berhenti merokok dalam kurun waktu\n15 tahun sebelum pemeriksaan, atau pasien \u226550 tahun dengan riwayat merokok \u226520\ntahun. Hal ini disebabkan belum ada metode <em>skrining<\/em>\nyang benar-benar sesuai dan tepat untuk kanker paru, apalagi jika pasien\ndianggap belum memiliki faktor risiko kanker yang mendukung kecurigaan adanya\nkeganasan pada paru-paru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lantas, apakah seseorang baru bisa didiagnosis menderita\nkanker paru dan ditangani hanya ketika sudah berada di stadium lanjut?<\/p>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>Artificial Intelligence bantu dokter\nhasilkan diagnosis yang akurat<\/strong><strong><\/strong><\/h5>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Era industri 4.0 mulai mencoba menjawab keresahaan atas keakuratan mendeteksi kanker paru. Seperti diwartakan&nbsp;<em>BGR.com<\/em>, sebuah algoritma Artificial Intelligence (AI) telah dikembangkan Google lewat kolaborasinya dengan para pekerja medis profesional dan memperlihatkan akurasi luar biasa dalam mendeteksi kanker paru. Hal ini tertuang dalam sebuah hasil studi baru yang dipublikasikan dalam Nature Medicine. Disebutkan pula bahwa dalam beberapa hal AI tersebut malah bisa lebih akurat ketimbang pakar radiologi untuk menemukan gejala kanker dalam sebuah pindaian medis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti sejumlah algoritma&nbsp;<em>deep learning<\/em>&nbsp;lain yang diujicobakan dalam ranah medis, otak komputer dalam studi ini dilatih dengan menggunakan beberapa hasil pindaian kanker paru-paru. Di tes pertama, AI ditugaskan menilai lebih dari 6.700 hasil pindaian kanker untuk melihat seberapa keakuratan dalam mengenali gejala kanker yang sudah lebih dulu diketahui dokter. Ternyata, akurasi AI ini mencapai 94,4 persen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Algoritma ini\nkemudian diadu lagi dengan otak manusia lewat kehadiran enam pakar radiologi.\nTujannya adalah melihat kemampuan komputer dan manusia dalam mendeteksi kanker melalui\n<em>slide<\/em> gambar yang belum pernah mereka\nlihat. Menariknya, komputer mampu mengalahkan para manusia dalam skenario data\ntomografi tambahan tak tersedia.<br>\n<br>\nHasil studi ini ditegaskan Google bukan ingin\nmenggantikan manusia dengan kecerdasan buatan. Penekanannya lebih kepada\nkombinasi pengalaman dokter manusia dan otak dari algoritma <em>deep learning<\/em> yang diharapkan bisa\nmeminimalisir kemungkinan salah diagnosis, hingga akhirnya berimbas ke kualitas\nkehidupan manusia yang lebih baik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Publik Indonesia berduka atas kepergian Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho beberapa waktu lalu. Sosok periang dan optimis ini meninggal di Tiongkok saat menjalani serangkaian pengobatan kanker paru. Seperti yang kita ketahui dari berbagai pemberitaan media massa, Sutopo pertama kali didiagnosis mengidap kanker paru-paru pada awal 2018 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4208,"featured_media":3121,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1465],"tags":[343,1237,1242,1238,1239,1240],"coauthors":[695],"class_list":["post-3120","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ai-data","tag-artificialintelligence","tag-healthcare","tag-kanker","tag-kesehatan","tag-paru-paru","tag-sutopo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3120","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4208"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3120"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3120\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3121"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3120"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3120"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3120"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=3120"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}