{"id":1116,"date":"2018-05-21T03:32:40","date_gmt":"2018-05-21T03:32:40","guid":{"rendered":"http:\/\/beta-blog.docotel.net\/?p=1116"},"modified":"2018-05-21T16:46:04","modified_gmt":"2018-05-21T16:46:04","slug":"tips-menjaga-keamanan-password-yang-sulit-ditembus-hacker","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/tips-menjaga-keamanan-password-yang-sulit-ditembus-hacker\/","title":{"rendered":"Tips Menjaga Keamanan Password Yang Sulit Ditembus Hacker"},"content":{"rendered":"<p>Keamanan siber telah menarik perhatian dunia dalam beberpa waktu terakhir. Bukan hanya para perusahaan saja yang harus menyiapakan sistem penangkalan hacker, pengguna internet pun harus bisa melindungi akun mereka dari aksi peretasan<\/p>\n<p>Akhir-akhir ini dunia media sosial penuh jadi sorotan tepatnya pekan lalu, twitter meminta seluruh <em>user<\/em> mengatur ulang <em>password<\/em> akun mereka sebagai aksi pencegahan karena dapat <em>bug<\/em> di dalam sistem penyimpanan kata sandi. Hal ini mengingatkan user terhadap pentingnya <em>password<\/em> yang digunakan dalam berbagai platform.<\/p>\n<p>Menurut data yang kami himpun dari Detik.com (18\/05\/2018) Charles Henderson, Global Managing Partner IBM X-Force Red, mengatakan bahwa penerapan <em>password<\/em> sebagai pelindung sebuah akun. Meski begitu, dalam kenyataannya saja sistem kata sandi masih digunakan hingga sekarang.<\/p>\n<p>Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah jumlah karakter yang digunakan. Semakin panjang pasword, maka semakin sulit untuk diretas. Meski tidak ada <em>password<\/em> yang benar-benar tidak bisa diretas, penggunaan karakter yang banyak akan meminimalisir potensi terjadinya keamanan siber. Hal tersebut dikarenakan para hacker membutuhkan waktu yang lebih lama untuk meretas <em>password <\/em>dengan karakter yang banyak.<\/p>\n<p>Penggunaan <em>password<\/em> manager juga bisa diterapkan jika panjang <em>password<\/em> menjadi masalah bagi user. <em>Software<\/em> yang membuat <em>password<\/em> secara acak untuk berbagai situs dan <em>platform<\/em>, kemudian menyimpannya, memungkinkan user cukup mengingat satu kata sandi untuk masuk ke perangkat lunak tersebut. Jika berbicara mengenai <em>password<\/em>, penambahan lapisan keamanan bisa dibilang sebagai pilihan terbaik, banyak situs dan <em>platform<\/em> terutama dari perbankan, mereka memberikan kode khusus lewat ponsel atau masuk lewat pemindai sidik jari dan wajah.<\/p>\n<p>Menurut Henderson, penambahan lapisan keamanan tersebut akan memberikan kesulitan bagi hacker untuk meretas akun atau rekening milik user. Meskipun mereka sudah mengetahui <em>password<\/em> milik user, para pelaku kejahatan siber ini masih akan disulitkan degan kode khusus atau informasi biometrik tersebut.<\/p>\n<p>Lalu, Celeb Barlow, Vice President, IBMSecurity, menyarankan kepada <em>us<\/em>er agar tidak menerapkan <em>password<\/em> yang sama terhadap rekening bank, email, dan media sosial. selain itu, menurutnya, berbohong juga dapat membantu menjaga keamanan <em>password<\/em>. Disini dia menambahkan jika kalian lupa sama <em>password<\/em> pribadi kalian, maka kalian akan diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan pribadi untuk mengatur ulang kata sandinya. Nah dalam menyiapakan jawabannya, kalian cukup berbohong saja. Jika data pribadi kalian sudah dibagikan ke sosial media, ini bukan hal tersulit bagi hacker untuk mengetahuinya.<\/p>\n<p>Mungkin ini bisa jadi pelajaran buat kita untuk tidak menjawab pertanyaan yang jujur namun gunakan jawaban yang ringkas dan mudah diingat, namun sulit diterka dari sosial media milik kalian.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keamanan siber telah menarik perhatian dunia dalam beberpa waktu terakhir. Bukan hanya para perusahaan saja yang harus menyiapakan sistem penangkalan hacker, pengguna internet pun harus bisa melindungi akun mereka dari aksi peretasan Akhir-akhir ini dunia media sosial penuh jadi sorotan tepatnya pekan lalu, twitter meminta seluruh user mengatur ulang password akun mereka sebagai aksi pencegahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1117,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[190,201,202,96],"coauthors":[],"class_list":["post-1116","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-knowledge","tag-hacker","tag-keamanan","tag-password","tag-tips"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1116"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1116\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1117"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1116"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/dti.amon.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=1116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}